The Seasons

0ktmbz

Tuhan selalu punya cara dalam menjawab do’a hambaNya. Tiap-tiap do’a yang dipanjatkan tak selalu saat itu juga dikabulkanNya. Mengapa? Karena Tuhan selalu menyimpan yang terbaik bila hambaNya senantiasa menunggu dengan sabar.

Aku pernah tersungkur penuh luka lebam hingga sukar bangkit. Luka-luka yang ditimbulkan oleh orang itu benar sulit hilang. Ia, dulu, adalah seseorang yang sangat sulit untuk kugapai. Ketika aku berhasil mendapatkannya, aku gagal mempertahankannya. Karena memang, ia tak pernah menyimpan rasa apapun padaku. Selama beberapa belas bulan aku lupa seperti apa rasanya dicintai. Aku selalu menutup diri, karena rasa sayang sekaligus sakitnya belum sirna. Banyak orang yang bilang, time heals , dan aku merupakan salah satu orang yang merasakan betapa konkretnya pernyataan itu. Lucu, betapa sebelumnya aku sama sekali tak pernah menjumpaimu, kecuali pada malam itu. Malam di mana akhirnya Tuhan mulai menjentikkan jarinya untuk menjawab do’aku.

Di luar bersalju. Aku, yang sudah melupakan masa lalu, bertemu denganmu yang sedang berusaha memungut serpihan-serpihan kasih yang telah kaujalin selama hampir dua tahun. Aku berdiri, melihatmu yang hujan. Aku mulai menaruh hati, sementara kau menggenggam erat serpihanmu yang rapuh. Tujuh belas hari setelah kaunyatakan perasaanmu, kau memilih kembali bersama bungamu yang hampir layu.

Selama delapan puluh dua hari aku bertahan pada keyakinanku; kau akan kembali, dan kau jawab pada malam itu. Saat bunga mulai mekar kembali, rasanya aku ingin tergelak, karena hari ke-100 bukanlah sesuatu yang seharusnya kurayakan. Kau kembali untuk memelukku, menciumku, menggenggam tanganku, dan menyiramiku dengan kasih. Aku tak berani berharap lebih, karena takut kau akan pergi lagi.

Hal itu terjadi. Ada sesuatu yang menarikmu menjauh. Kau bukanlah sosok yang tiap malam kutatap wajahnya sebelum aku terlelap. Kau menamparku dengan segenap kata yang penuh kesungguhan. Daun-daun mulai menguning. Aku kembali tersungkur dan menolak untuk bangun. Sederetan peristiwa melitasi ruang hampa. Gelak tawa, senyum sumringah, pendar hangat, hingga tangis. Aku menolak segala hal yang berhubungan denganmu. Kututup pintuku dengan rapat, tanpa celah. Hingga aku memutuskan untuk keluar, dan mencari diriku yang dulu pernah kubuang.

Aku menghabiskan musim dingin, semi, panas, gugur, hingga kembali dingin denganmu. Segala pahit manisnya yang kita bagi bersama. Aku mungkin pernah mengutuk takdir yang telah mempertemukan kita. Tapi tak melulu hidup diisi dengan rasa bahagia. Manusia diciptakan berpasang-pasangan. Dan kamu, adalah orang yang selalu aku semogakan untuk mendampingi aku hingga kita bisa menyaksikan rambut masing-masing yang saling memutih di beranda rumah.

I love you, for all you are and for all you are not.

Pada tanggal dan bulan yang sama, dua tahun lalu, aku dan kamu disatukan dalam sebuah ikatan tak terlihat mata. Dan hari ini, tahun kedua kita bersama dengan segala badai yang pernah mengobrak-abrik apapun yang kita berdua punyai. Di masa depan, bukan berarti tak ada badai lagi. Bahkan mungkin akan datang dengan kekuatan lebih besar dari yang sebelum-sebelumnya. Aku percaya, kita yang sudah sama-sama dewasa ini, akan bisa mengatasinya. Sebab aku masih ingin menikmati salju bersamamu. Melihat kuncup bunga pertama yang mekar di halaman rumah. Berjemur di pantai dengan teriknya matahari sebagai teman. Menyapu halaman yang penuh dengan daun yang telah menguning. Aku, masih ingin bersamamu.

Tetaplah bersamaku.

P.S: Isi ini dulu, baru dapet kadonya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s